Satria Soedirman is SS

Sebuah konsep bisnis yang akan menjadi jawaban bagi kebutuhan Anda. Kami ingin menjadi partner bagi Anda dalam menemukan solusi masalah yang sedang Anda cari jalan keluarnya.

1st Service: Research

Layanan pertama SS berupa riset bisnis dan sosial, yaitu layanan bagi Anda para pelaku bisnis, manajerial, serta pemerhati masalah sosial yang membutuhkan partner untuk melakukan riset.

2nd Service: Retail

Layanan kedua SS berupa ritel, yaitu kami menjadi partner bagi Anda seorang produsen yang sedang membutuhkan bantuan dalam hal penjualan/distribusi produk yang telah Anda produksi.

3th Service: Event

Layanan ketiga SS berupa event, yaitu sebuah solusi bagi Anda yang membutuhkan asupan informasi dalam bentuk event atau menjadi partner bagi Anda yang ingin mengadakan event.

SS : Accelerating U Quickly

Kami memiliki komitmen untuk melayani Anda secara professional, sehingga kami berharap bahwa Anda benar-benar merasakan bahwa kami adalah seorang partner bagi solusi masalah Anda.

Tampilkan postingan dengan label Dunia Riset. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Riset. Tampilkan semua postingan

Grounded Research

Survai merupakan pendekatan kuantitatif, sedangkan pendekatan titik berat grounded research adalah pada pendekatan kualitatif. Data terutama dikumpulkan melakui wawancara bebas. Seperti yang dikemukakan oleh Glaser dan Strauss, grounded research merupakan reaksi yang tajam dan sekaligus menyajikan jalan keluar dari “stagnasi teori” dalam ilmu-ilmu sosial, dengan penitikberatan pada sosiologi. Kritik dilontarkan baik kepada pendekatan yang kuantitatif maupun yang kualitatif yang selama ini dilakukan.

Kedua pengarang tersebut mengkritik ketertarikan para peneliti yang berlebihan terhadap teori-teori yang sangat umum (grand theories) dari tokoh-tokoh besar seperti Weber, Parsons, Veblen, Cooley, dan lain-lain. Ini menjurus kepada studi verifikasi yang bermunculan seperti jamur di musim hujan, yakni verifikasi dari teori-teori tersebut melalui pendekatan kuantitatif dan tes statistik. Hasil akhir dari penelitian merupakan verifikasi dari teori atau hipotesa, untuk diterima atau ditolak.

Dengan demikian penelitian tidak bertitik tolak dari data atau situasi sosial tersebut, tetapi dari konsep, hipotesa dan teori yang sudah mapan, yang mungkin sekali tidak relevan untuk situasi sosial yang khas dari masyarakat  yang diteliti. Karena sifatnya verifikasi atau pengecekan terhadap teori yang sudah tersedia, maka teori-teori baru tidak tumbuh dan berkembang. Sebaliknya, terkadang timbul teori baru tetapi tidak pula berlandaskan data, jadi telepas dari data.

Grounded research menyajikan suatu pendekatan yang baru. Data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data, dan karena itu dinamakan grounded. Kategori-kategori dan konsep-konsep dikembangkan oleh peneliti di lapangan. Data yang bertambah dimanfaatkan untuk verifikasi teori yang timbul di lapangan, yang terus menerus disempurnakan selama penelitian berlangsung.

Di dalam buku Alfian (ed.), yang berjudul Segi-segi Sosial Budaya Masyarakat Aceh: Hasil Penelitian dengan Metode Grounded Research (1977), digambarkan dengan baik mengapa dipilih grounded research untuk para peserta Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial di Banda Aceh. Pendekatan itu menggunakan observasi berpartisipasi – sebagai yang lazim dilakukan oleh  sarjana antropologi – mengembangkan konsep-konsep di lapangan, dan peneliti terlibat secara penuh dalam penelitiannya dari awal sampai akhir. Jadi berbeda dengan penelitian survai yang  mengandalkan pewawancara dalam pengumpulan data, kadang-kadang peneliti utama tidak pernah tinggal di daerah penelitian dan malah tidak mustahil bahwa dia tidak pernah ke lapangan untuk penelitian tersebut.
(Dikutip dari artikel karya Masri Singarimbun yang berjudul “Metode dan Proses Penelitian” dalam buku yang berjudul “Metode Penelitian Survai” terbitan tahun 1989).

Penelitian Survei

Penelitian survei adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok. Dari pengertian tersebut kita dapat memahami bahwa penelitian survei menitikberatkan pada: (1) kuesioner sebagai alat utama pengumpulan data; dan (2) data diambil hanya dari sekelompok sampel dari sebuah populasi di mana sampel tersebut dianggap mewakili dari keseluruhan populasi.

Selanjutnya, secara umum yang menjadi unit analisa dalam penelitian survei adalah individu. Namun pada penelitian tertentu mungkin bukan merupakan unit individu tetapi sebuah unit pasangan atau kelompok. Jadi, unit analisa ini perlu sekali diperhatikan, terutama bagi mereka yang masih tergolong dalam kelompok peneliti muda.

Penelitian survei ini dapat digunakan untuk maksud sebagai berikut: (1) penjajagan (eksploratif); (2) deskriptif; (3) penjelasan (explanatory/confirmatory), yakni untuk menjelaskan hubungan kausal dan pengujian hipotesis; (4) evaluasi; (5) prediksi atau meramalakan kejadian tertentu di masa yang akan datang; (6) penelitian operasional; dan (7) pengembangan indikator-indikator sosial.

Penelitian penjajagan atau eksploratif bersifat terbuka, masih mencari-cari. Pengetahuan peneliti tentang masalah yang akan diteliti masih terlalu tipis untuk dapat melakukan studi deskriptif. Kemudian, penelitian deskriptif sendiri dimaksudkan untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu. Peneliti mengembangkan konsep dan menghimpun fakta, tetapi tidak melakukan pengujian hipotesis. Apabila untuk data yang sama peneliti menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui pengujian hipotesis, maka penelitian tersebut tidak lagi dinamakan penelitian deskriptif melainkan penelitian pengujian hipotesis atau penelitian penjelasan (explanatory research). Jadi perbedaan pokok antara penelitian deskriptif dan penelitian penjelasan tidaklah terletak pada sifat datanya, melainkan pada sifat analisisnya.

Berbicara masalah kegunaan, penelitian survei berguna untuk mengadakan evaluasi. Hal yang perlu dijawab adalah sampai seberapa jauh tujuan yang digariskan pada awal program tercapai atau mempunyai tanda-tanda akan tercapai. Selanjutnya, hasil penelitian survei dapat pula digunakan untuk mengadakan prediksi mengenai fenomena sosial tertentu, seperti hal yang menyangkut pendapat umum mengenai keadaan sosial politik, ekonomi, gaya hidup masyarakat tertentu, dan lain-lain. Ada kalanya juga hasil penelitian survei ini digunakan untuk mengadakan proyeksi, seperti jumlah penduduk, tingkat ekonomi, minat beli masyarakat, dan lain-lain yang sangat berguna dalam berbagai proses pengambilan keputusan.

Akhir-akhir ini penelitian survei banyak digunakan untuk berbagai penelitian operasional, yaitu untuk menganalisis dan menentukan variabel-variabel yang berkaitan dengan aspek operasional suatu masalah penelitian. Setelah diketahui variabel tertentu yang mengakibatkan terjadinya masalah penelitian, maka selanjutnya dilakukan identifikasi untuk mengatasi masalah tersebut.

(Diolah dari artikel karya Masri Singarimbun yang berjudul “Metode dan Proses Penelitian” dalam buku yang berjudul “Metode Penelitian Survai” terbitan tahun 1989).

Penelitian Eksperimen

Penelitian  eksperimen sangat sesuai untuk pengujian hipotesa tertentu dan dimaksudkan untuk mengetahui hubungan sebab akibat variabel penelitian. Pelaksanaannya memerlukan konsep dan variabel yang jelas sekali dan pengukuran yang cermat. Penelitian eksperimen mungkin dilakukan di laboratorium, di kelas, atau lapangan. Kiranya jelas bahwa lebih mudah melakukan penelitian eksperimen di labratorium daripada di lapangan, karena alat-alat yang khusus dan lengkap dapat tersedia di laboratorium dan pengaruh luar dapat dengan mudah dicegah selama eksperimen berlangsung.

Eksperimen dapat dilakukan tanpa atau dengan kelompok pembanding (control group). Misalnya, ada sebuah film tentang transmigrasi yang dimaksudkan untuk meningkatkan keinginan masyarakat untuk bertransmigrasi. Untuk itu dipilih sebuah kelomok eksperimen dan mereka diwawancarai (pre-test) dengan menggunakan kuesioner yang khusus dibuat untuk studi itu. Lalu film yang merupakan stimuli eksperimen dipertunjukkan. Sesudah kelompok yang sama diwawancarai (post-test) dengan kuesioner yang sama. Hasil pre-test dan post-test dibandingkan untuk mengetahui apakah ada perubahan sikap bertransmigrasi sebagai akibat stimulus eksperimen.

Dalam penelitian eksperimen yang tidak menggunakan kelompok kontrol hasil penelitian tersebut diragukan keabsahannya, karena beberpa variabel yang mengancam atau yang melemahkan validitas penelitian tidak dikontrol. Misalkan, respons terhadap kuesioner menunjukkan adanya perubahan sikap, maka timbulah pertanyaan: apakah perubahan sikap itu terjadi karena melihat film itu, ataukah karena kesadaran bahwa mereka diuji, kesadaran yang mengubah respon mereka terhadap pertanyaan yang diajukan pada tahap kedua.

Untuk menghindarkan masalah tersebut, berbagai penelitian eksperimen menggunakan kelompok pembanding (control group). Jadi dalam contoh tentang film transmigrasi di atas, dipilih dua kelompok yang mempunyai ciri-ciri dan sikap terhadap transmigrasi yang kurang lebih sama, satu sebagai kelomok eksperimen dan yang satu lagi sebagai kelompok pembanding. Film hanya dipertunjukkan kepada kelompok eksperimen. Kedua kelompok diwawancarai dua kali; yang satu diselingi dengan pertunjukkan film sebagai stimulus, sedangkan yang satu lagi tidak. Hasilnya dibandingkan untuk mengetahui apakah stimulus eksperimen memberikan pengaruh atau tidak.

Perlu pula diperhatikan, apakah ada pengaruh variabel lain selama eksperimen tersebut. Misalnya, distribusi pamflet KB dihipotesakan mempengaruhi penerimaan kontrasepsi modern. Dipilih desa eksperimen dan desa kontrol. Lalu diadakan intervensi di desa eksperimen tersebut. Kemudian dibandingkan antara penerimaan KB di desa eksperimen dan di desa pembanding.

Dalam hal ini perlu sekali diperhatikan variabel lain yan mempengaruhi, karena efeknya dapat membatalkan eksperimen itu sama sekali. Umpama ada tambahan PLKB (Petugas Lapangan KB) atau bidan di desa eksperimen, yang mungkin lebih besar pengaruhnya daripada pamflet yang diedarkan tersebut. Atau sebaliknya, kalau hal tersebut terjadi di desa pembanding, maka fungsinya sebagai pembanding menjadi kabur.

(Dikutip dari artikel karya Masri Singarimbun yang berjudul “Metode dan Proses Penelitian” dalam buku yang berjudul “Metode Penelitian Survai” terbitan tahun 1989.)

Apa Itu Penelitian

Ketika Anda mendengar atau membaca istilah “penelitian” atau “riset”, kesan seperti apa yang ditimbulkan kata tersebut bagi Anda? Apakah sebuah gambaran yang mengilutrasikan sebuah laboratorium dengan para ilmuwan yang bekerja dengan pembakar Bunsen dan pipa tes? Atau kah sebuah gambaran seorang seperti Einstein yang sedang menulis disertasi tentang sejumlah subjek rumit? Atau mungkin juga seseorang yang mengumpulkan data untuk mempelajari dampak sistem perawatan harian yang baru diperkenalkan terhadap moral karyawan? Tentu saja semua kesan tersebut mewakili aspek penelitian atau riset, namun dalam jenis penelitian yang berbeda. Penelitian, sebuah istilah yang entah bagaimana menakutkan bagi sebagian orang, adalah proses menemukan solusi masalah setelah melakukan studi yang mendalam dan menganalisis faktor situasi.

Uma Sekaran medefinisikan penelitian adalah sebagai sebuah proses penyelidikan investigasi yang terkelola, sistematis, berdasarkan data, kritis, objektif, dan ilmiah terhadap suatu masalah spesifik, yang dilakukan dengan tujuan menemukan jawaban atau solusi terkait. Intinya, penelitian memberikan informasi yang diperlukan untuk memandu peneliti mengambil keputusan yang terinformasi agar bisa memecahkan masalah secara sukses. Informasi yang diperoleh bisa berasal dari analisis mendalam terhadap yang dikumpulkan dari tangan pertama (sumber primer), atau data yang telah tersedia (data sekunder), seperti dari perusahaan, industri, arsip, dan lain-lain. Data tersebut bisa berupa data kuantitatif, yang umumnya diperoleh melalui pertanyaan terstruktur, atau berupa data kualitatif, yang dihasilkan dari jawaban yang luas terhadap pertanyaan spesifik dalam wawancara, atau dari informasi dari berbagai sumber yang telah ada sebelumnya.

Jadi, dapat dipahami bahwa penelitian mengindikasikan sebuah proses untuk menemukan jawaban atas sebuah masalah dengan langkah-langkah terentu. Inti utama yang harus kita pahami sebelum melakukan penelitian atau riset adalah masalah penelitian itu sendiri. Sebab, masalah penelitan tersebut yang akan kita cari tahu jawaban atau solusinya. Jika kita tidak paham perihal masalah penelitian, sangat tidak mungkin kita dapat melakukan penelitian atau riset itu lebih lanjut. Barulah setelah kita dapat merumuskan sebuah masalah penelitian, kita dapat melakukan langkah lebih lanjut dari proses penelitian hingga penelitian tersebut berakhir dengan dicapainya tujuan atau jawaban atas masalah yang ada.

Referensi: Uma Sekaran

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More